abdullah.alaydrus

April 7, 2008

Asyraf Hadhramaut (bagian 1)

Filed under: islamic — abdullah alaydrus @ 2:13 am

Asyraf Hadhramaut dan peranan mereka dalam menyebarkan islam di Asia Tenggara

Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus
( pengajar Sejarah Modern di Universitas Uni Emirat Arab )

 

Pengantar

Asia Tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama Islamnya. Yang termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah Timur India sampai Lautan Cina dan mencakup Indonesia, Malaysia dan Filipina.
Islam masuk ke Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya dengan dakwah yang damai dan bukan dengan ketajaman mata pedang. Ia masuk dengan perantaraan orang-orang Arab Hadhramaut, dalam hal ini para syarif ( gelar untuk keturunan Rasul, Penj) dari keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Beliau diberi laqob (gelar) Al-Muhajir karena hijrah dari Bashrah setelah kota itu menghadapi serangan umum Khawarij dan pemberontakan orang-orang kulit hitam. Ketika itu ia memutuskan berngakat ke Hijaz dan menetap setahun di Madinah Al-Munawwarah ketika Makkah Menghadapi serangan orang-orang Qaramithah. Kemudian beliau melaksanakan haji dan thawaf mengelilingi ka’bah tanpa ada Hajar Aswad yang ketika itu bawa ke Hijr sehingga tempat batu itu menjadi kosong.
Kemudian Imam Ahmad bin Isa memutuskan hijrah ke Hadhramaut. Disana ia menghadapi orang-orang Khawarij, sehingga ia dan anak cucunya dapat menghapus mazhab Ibadhiy dan menyebarkan mazhab Syafi’i. Setelah itu salah satu cucunya Muhammad Shohib Marbath menyempurnakan perjalanannya dan menyebarkan mazhab Syafi’i di daerah Zhufar.
Para syarif hadhramaut juga hijrah ke Afrika Timur, India, dan Asia Tenggara untuk menyebarkan dakwah Islamiyah dan mengajarkan para penduduknya pokok-pokok ajrab agama yang hanif (lurus) ini.
Kita nanti akan sampai pada para da’i yang pertama dari kalangan syarif Hadhramaut yang memainkan peran pening dalam menyebarkan Islam di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Yang paling penting diantara mereka adalah para da’i pertama yang berjumlah 9 orang dan dikenal dengan nama ‘Sunan’ yang artinya “wali” dan sebagian besar dari mereka adalah para syarif hadhramaut dari keturunan Ahmad bin Isa.

bersambung..

July 16, 2007

KALIMAT TAUHID

Filed under: idea, islamic — abdullah alaydrus @ 6:05 am

ABU DHAR ra, sahabat Nabi saw, pernah sebelum masuk Islam, pergi ke tempat yang biasanya ia menyembah berhala setiap hari untuk meminta kepadanya rizki. Tiba-tiba ia melihat kepala patungnya basah seperti ada orang yang sengaja menyiraminya dengan air. Abu Dhar marah besar dan bertanya kepada dirinya: “siapa gerangan yang berani berani menyirami air di atas kepala Tuhanku”. Ia menengok ke kiri ke kanan tapi tidak mendapatkan tanda-tanda ada seseorang berada di sekitar tempat itu, hanya saja ia melihat ada seekor serigala sedang asyik tidur di tempat yang tak berjahuan dengan patungnya. Dari situ, ia mengetahui bahwa serigala itulah yang telah mengencingi kepala Tuhannya. Maka turunlah kepada Abu Dhar hidayat dari Allah. Lalu ia melontarkan beberapa bait syair kepada patungnya:Tuhan dikencingi serigala di atas kepalanya
Sungguh hina bagi Tuhan yang telah dikecingi
Jika kamu itu Tuhan pasti kamu bisa mencegahnya
Maka sialan bagimu karena tidak bisa melindungi.
Aku beriman kepada Allah, tak ada yang mengalahi Nya.
Dan bersuci dari segala bentuk patung di muka bumi

Setelah itu Abu Dhar datang kepada Rasulallah untuk mengikrarkan keislamannya. Mulai saat itu ia menjadi seorang muslim yang patuh dan teguh dalam membela kalimat tauhid.

Konon dari kecintaannya beliau terhadap kalimat tauhid, sehingga bacaan ayat suci al Quran yang paling banyak dibaca ialah surat al-Ikhlas (Qul Huallahu Ahad). Karena di dalam surat itu terkandung ayat-ayat yang memurnikan keesaan Allah dan menolak segala macam kekufuran.

Suatu ketika Rasulallah saw berkata kepada Abu Dhar: “Wahai Abu Dhar sesungguhnya Jibril telah memberi salam kepadamu“. Abu Dhar pun bertanya kepada Beliau “Bagaimana Jibril bisa mengenalku, ya Rasulallah?“. Rasulallah saw menjawab: “Pertanyaanmu itu telah ku tanya kepada Jibril, dan iapun menjawab: “Bagaimana aku tidak mengenal Abu Dhar, sedangkan semua malaikatdi langit telah mengenalnya“. Aku lalu bertanya lagi kepada Jibril: “Bagimana mereka mengenal Abu Dhar wahai Jibril“. Jibril pun menjawab: “karena ia banyak sekali membaca surat al-Ikhlas“.

Dari kisah di atas, kita bisa mengambil satu pelajaran penting sekali bahwa Islam mengajarkan umatnya, sebelum segala sesuatu, agar memperteguh akidahnya dan memperkuat keyakinanya dengan kalimat tauhid “La Ilaha Ilallah“. Jika akidah dan keyakinan kepada Allah kuat, niscaya akhlak pun akan baik dan benar. Karena untuk merobah akhlak menjadi baik dan benar tanpa memperkuat akidah dan tauhid ibarat usaha menyuburkan daun dan ranting sebuah pohon tanpa mempedulikan kondisi akarnya. Hanya pohon yang memiliki akar kuat akan memiliki batang, ranting, dan dedaunan yang kokoh pula.

Sungguh besar derajat kalimat tauhid di sisi Allah. Sungguh agung kedudukannya di hadapan Pencita langit, bumi dan se isi-isinya. Bahkan kalimat itu bagi Nya sangat teguh, bagaikan pohon yang teguh, kokoh, dan berdiri tegap yang tidak bisa disambar petir atau halilintar. Demi Allah seandainya langit, bumi dan se isi-isinya diletakan di neraca timbangan dan kalimat “La Ilaha Ilallah” diletakan di neraca timbangan yang lain, maka kalimat “La Ilaha Ilallah” akan lebih berat dari langit, bumi dan seisi-isinya.

La Ilaha Ilallah“. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah, tiada agama selain agama Allah, tiada syari’at selain syari’at Allah, dan tiada aturan di dunia yang indah dan sempurna selain aturan Allah. Maka kalau ada yang bertanya apa intisari agama yang diturukan para Nabi, dari mulai nabi Adam as sampai nabi kita Muhammad saw? Jawaban yang tepat adalah tegakkan kalimat tauhid “La Illaha Illallah“.

Makanya, Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi selalu menutup majlisnya setiap minggu dengan kalimat tauhid “La Ilaha Ilallah“. Setelah kalimat itu dibacakan, terasa benar ada sentuhan dan getaran Ilahi yang masuk ke hati sanubari pendengarnya. Karena kalimat baik yang keluar dari hati yang baik dan bersih, tak mungkin ada dinding yang bisa menghalanginya dan pasti akan menembus ke hati pula. Kalimat “La Ilaha Illallah” yang menyentuh qalbu mu’min ini cukup dijadikan sebagai ta’lim atau pelajaran yang tak terlupakan sepanjang hayat dikandung badan.

Sampai sekarang ini, suara Habib Ali masih teringat. Setiap ingat, jiwa kita tergetar oleh pesona kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesalehannya yang sukar dibayangkan masyarakat kota sekarang ini, yang cenderung angkuh, sombong, serba duniawi, seolah-olah semua isi dunia hendak mereka kuasai. Padahal, setelah dikuasai, yang mereka dapatkan cuma penyakit demi penyakit yang hampir tak ada obatnya. Karena penyakit mereka bukan terletak di dalam tubuh, melainkan dalam jiwa yang kotor, hati yang mesum dan gersang, yang tidak bisa diobati kecuali dengan siraman rohani dan kalimat tauhid “La Ilaha Illallah” yang selalu dibawakan Habib Ali setiap minggu.

Pernah Rasulallah saw sedang duduk bersama para sahabatnya. Beliau bertanya kepada mereka pertanyaaan yang tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. “Ada sebuah pohon yang daunya tidak pernah jatuh ke tanah, pohon itu ibarat seorang mukmin yang banyak manfaatnya. Apa gerangan nama pohon itu?“. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang bisa menjawab pertanyaannya. Nabi pun menjelaskan: “itulah pohon korma“.

Itulah perumpamaan kalimat tauhid yang dimaksud Rasulallah saw, ibarat pohon korma yang banyak bermanfaat bagi manusia, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelagit. Pohon itu tumbuh subur, tegak dan kokoh di setiap musim, baik di musim kemarau atau dimusim dingin, di terik matahari yang membakar yang suhunya bisa mencapai diatas 50 derajat C atau di saat datangnya musim dingin yang suhu bisa mencapai di bawah 0 derajat.

Pohon korma yang teguh dan kokoh itu diibaratkan seperti ucapan yang teguh yang tidak hanya bermangfaat bagi kehidupan manusia didunia, akan tetapi berlanjut kemangfaatanya sampai ke akhirat. Allah telah meneguhkan iman seorang mukmin dengan ucapan yang teguh (kalimat tauhid) dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat.

Laa Ilaha Ilallah“, tiada Tuhan selain Allah. inilah kalimat yang selalu dibawakan Habib Ali Alhabsyi sampai akhir hayatnya. Sebelum wafat beliaupun sempat mendoakan umat Islam agar dengan kalimat itulah mereka dihidupkan, dengan kalimat itulah mereka dimatikan dan dengan kalimat itu pula insyaAllah mereka akan dibangkitkan bersama-sama pemimpin tauhid, Rasulallah saw, di hari kebangkitan

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

Sudahkah kita ber-La ilaha illa llah?

Filed under: idea, islamic — abdullah alaydrus @ 3:52 am

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik ketika memasuki Ka’bah pada saat melaksanakan ibadah haji bertemu dengan Salim ibn Abdullah ibn Umar ibn Khattab. Lalu ia berkata, “Wahai Salim, mintalah kepadaku kebutuhan-kebutuhanmu”. Salim (cucu Umar r.a.) menjawab, “Saya malu di rumah Allah memohon kepada selain Allah.” Ketika Salim keluar dari Ka’bah (Masjid al Haram), ia diikuti oleh Khalifah Hisyam seraya berkata, “Sekarang engkau sudah keluar dari Ka’bah maka mintalah apa saja yang engkau perlukan.” Salim bertanya, “Dari kebutuhan duniawi atau kebutuhan akhirat?” Khalifah Hisyam menjawab, “Dari kebutuhan duniawi.” Salim kemudian berkata kepada Khalifah, “Saya tidak meminta kebutuhan duniawi dari Yang Memiliki Dunia. Bagaimana mungkin saya meminta dari orang yang tidak memiliki dunia?”

La ilaha illa Llah! Apa yang dilakukan oleh Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab, adalah ekspresi totalitas penghambaan kepada Allah dan manifestasi dari La ilaha illa llah. Sesungguhnya, bila kita dalami makna lafadz tahlil tersebut memang membutuhkan konsekwensi yang sangat besar dalam kehidupan kita. La ilaha illa Llah tidak dapat kita batasi pemaknaannya hanya dengan arti ‘tidak ada tuhan selain Allah’ saja. Sullamunnajah memberikan arti La ilaha illah llah bahwa tidak ada yang patut disembah di muka bumi ini, kecuali Allah. La ilaha ila Llah, bahkan juga bermakna; tidak ada yang patut dimintai pertolongan kecuali Allah, tidak ada yang patut menjajah kita kecuali Allah, tidak ada yang patut kita cintai kecuali Allah.

La ilaha ila Llah, menuntut seorang muslim yang mengucapkan lafadz tersebut benar-benar meng-esa-kannya dalam segala bidang. Setiap gerak tubuh, jiwa dan jasad yang membungkusnya, mengejawantahkan makna lafadz tersebut. Ketika hal itu dapat dilakukan, maka tidak saja kesalehan diri dihadapan Allah yang terekspresi, bahkan kesalehan sosial di hadapan mahluk Allah juga nampak dalam diri seseorang.

Apa yang dilakukan Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab, adalah salah satu bentuk ekspresi La ilaha ila Llah yang terbungkus dalam kosa kata yang lain. Artinya ketika kita menampakkan rasa butuh kita di hadapan selain Allah maka secara tidak langsung kita mengingkari makna La ilaha ila Llah itu sendiri. Karena La ilaha ila Llah juga bermakna tidak ada yang boleh mengetahui kebutuhan kita kecuali Allah. Salim menghawatirkan ada yang mengetahui kebutuhannya selain Allah. Ada yang mencukupinya selain Allah, dan kemudian dia menghambakan diri kepada selain Allah.

Seorang teman bercerita tentang budaya orang Betawi. Orang Betawi biasanya mengukur apa yang harus dikerjakan setiap harinya sesuai dengan kebutuhannya. Katakanlah seseorang membutuhkan Rp. 10.000.00 perhari, maka ketika uang sejumlah itu didapatkan, orang itu menghentikan pekerjaannya meski hari masih pagi. Bahkan ketika suatu hari seorang betawi mendapat peruntungan Rp. 50.000.00 dalam sehari yang menurut kalkulasi dia dapat menghidupi diri selama lima hari, maka dia tidak bekerja untuk lima hari ke depan. Perilaku seperti ini sebenarnya merupakan ajaran sufiyah, ajaran ulama-ulama kita terdahulu. Diharapkan seorang muslim yang menjalankan perilaku ini menjadi bagian dari orang yang dicirikan dalam al Quran

Rijaalun laa tulhiihim tijaratun wa la bai’un ila dzikrillah

Seseorang yang aktivitas perekonomiannya tidak membuat terlupa pada dzikrullah. Secara tidak langsung praktek kehidupan masyarakat Betawi itu adalah praktek ber-La ilaha ila Llah.

Di sisi lain, kita juga menemui orang-orang yang begitu memperhatikan status sosial, ketika seseorang diangkat dalam posisi seorang pejabat, meski dalam strata yang terendah, katakanlah eselon VI. Dia disibukkan dengan mengumpulkan harta untuk mengejar kepantasan bagi seorang pejabat. Harus bermobil meski jelek. Harus ini dan itu, hingga menghalalkan segala cara untuk memenuhinya. Orang-orang yang seperti ini tidaklah sulit dicari di sekitar kita. Penghambaan pada materi seperti ini, bila kita runut kembali merupakan bagian bagi pengingkaran diri terhadap La ilaha ila Llah, meski orang tersebut di sisi lain rajin ke masjid atau bertahlil. La ilaha ila Llah hanya menjadi lipstik pemanis bibir saja.

KH. Mustofa Bisri dalam ceramahnya di PP. Nurul Huda Mergosono beberapa waktu yang lalu bahkan menyatakan perilaku kita sehari-hari yang kadang ketika ingin membeli sesuatu memilih-pilih uang yang paling kusut untuk diberikan penjual, adalah bagian dari pengingkaran pada La ilaha ila Llah. Meski hal itu merupakan sesuatu yang remeh, tetapi secara tidak langsung perilaku tersebut menunjukkan kerdilnya hati kita yang tidak mampu melihat, meraba dan menerawang bukan pada palsu atau tidaknya uang tetapi mana Allah dan mana mahluk Allah. Kita dijajah oleh uang. Kita mengeluarkan sesuatu yang paling buruk bentuknya dari dompet kita karena dijajah oleh sesuatu yang masih bagus dan pantas menghuni dompet. Meski nilainya sama! Uang seribu kusut dan robek di sana sini dan uang seribu terbaru keluaran bank, apa bedanya? Sekali lagi nilainya sama! Perbedaan jasad mahluk Allah yang bernilai sama membuat jiwa kita tidak mampu menyatakan dalam tindakan kita La ilaha ila Llah, tidak ada yang boleh menjajah pikiran saya kecuali Allah.

Suatu hari seorang santri meminta izin untuk mengikuti tur perpisahan sekolahannya. Ketika ditanya bisakah dia tidak melakukan kemaksiatan sekecil apapun dalam tur itu? Dia menjawab, “Tidak!” Ketika kyai melarang, santri ini ngotot meminta izin dengan alasan sekali dalam seumur hidup, dan tidak enak dengan teman-temannya, karena sudah menyatakan ikut. Argumen santri ini, sebenarnya kalau kita jujur juga sering kita lakukan, datang kondangan karena tidak enak dengan yang mengundang. Padahal di majelis itu ada percampuran antara lawan jenis dan wanita-wanita yang membuka aurat dan lain sebagainya. Alasan tidak enak pada teman itu, adalah alasan yang sangat manusiawi. Sepertinya kita begitu perhatian dengan toleransi dalam bermasyarakat, kita adalah orang yang beradab karena menjaga perasaan orang. Tetapi bukankah itu termasuk mudahanah? Mengedepankan tidak enak dengan manusia dibanding tidak enak dengan Allah kalau menjalankan maksiat. Laa ilaha ila Llah, tidak ada yang patut disungkani kecuali Allah.

Di jalan-jalan kita sering melihat orang bershalawat atau membaca al Quran sambil menghentak-hentakkan keranjang, berkaos panitia pembangunan masjid atau mushalla. Betapa ikhlasnya mereka mengorbankan harga dirinya meminta-minta untuk membangun bait Allah. Tetapi kenapa masjid yang begitu indah dibangun dengan dana yang diperoleh dari jalanan seperti itu, kosong miskin jemaah? Jangan-jangan hal ini disebabkan cara pengumpulan dana yang seperti itu merupakan bagian dari pengingkaran pada Laa ilaha ila Llah, tidak ada yang bisa diminta-minta kecuali Allah. Al Quran menyatakan la masjidun ussisa ala at taqwa. Masjid dibangun berlandaskan ketaqwaan. Bagaimana kita mampu melandasi pembangunan masjid dengan ketaqwaan, bila cara pengumpulan dananya tidak ber-La ilaha ila Llah? Menampakkan kefakiran di hadapan mahluk yang tidak memiliki kemampuan apapun tanpa campur tangan Allah.

Penulis menduga, banyak kyai yang begitu tidak menyukai santri-santrinya menjadi pegawai negeri, meski kemudian menyerahkan solusinya pada masing-masing pribadi, adalah dalam rangka mengarahkan santrinya untuk ber-La ilaha ila Llah. Seorang pegawai diatur secara ketat kehidupannya oleh undang-undang negara, dengan demikian secara tidak langsung ada penghambaan dan penjajahan pada diri seorang pegawai negeri oleh selain Allah. Padahal kesaksian Laa ilaha ila Llah yang disampaikan seorang muslim menuntut dia untuk tidak mau dijajah oleh siapapun kecuali Allah.

Bila kita mengupas semua bagian kehidupan kita, rasanya banyak sekali poin La ilaha ila Llah yang kita tinggalkan atau sengaja kita abaikan.

Semoga saja dawuh Rasulullah,

Man qaala La ilaha ila Llah, dakhala al jannah
Barang siapa yang mampu mengucap La ilaha ila Llah maka dia masuk surga

Cukup dalam ucapan lisan saja sehingga kita masih bisa berharap surga Nya. Tetapi bila yang dikehendaki Rasulullah tidak sekedar berucap bibir, tapi juga ucap fikir, ucap tubuh, ucap tiap gerak langkah hidup kita, masih pantaskan kita berharap surgaNya? Sudahkah kita ber-Laa ilaha ila Llah?

Penulis:
Abu Najih Ukassyah

Penulis adalah santri tamatan akhir 1996 sekarang menjadi pelayan komunitas Shalawat Padang Ati Jl. Danau Kerinci 6 E1A5 Malang, masih nyantri di Majlis Ta’lim Al Habib Muhammad Ibn Idrus Al Haddad Malang.


sumber: http://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/

June 20, 2007

ANAK ORANG HITAM

Filed under: islamic — abdullah alaydrus @ 7:40 am

Hasan Husen Assagaf

Kelihatannya diskusi para shahabat yang tidak dihadiri oleh Rasulallah saw sangat serius. Mereka membicarakan tentang satu masalah. Nampak dalam jalsah (rapat) ada Khalid bin Walid, begitu pula Abdurahman bin Auf ikut serta duduk dalam rapat tadi. Bilal bin Rabah tidak ketinggalan kelihatan bersila di pojok majlis. Abu Dhar turut hadir pula dan kebetulan pada saat itu sedang berbicara dengan penuh semangat. Abu Dhar mengeluarkan pendapat apa yang harus dilakukan jika musuh datang menyerang. “Aku berpendapat jika musuh datang menyerang, tetara muslimin jangan tinggal diam” jelasnya. Ia mengutarakan pendapatnya panjang lebar apa yang seharusnya dilakukan tentara muslimin pada saat krisis.

Setelah Abu Dhar selesai mengutarakan pendapatnya, lalu datang giliran Bilal. Apapun pendapat Bilal berlawanan sekali dengan Abu Dhar. Ia menguraikan bahwa pendapat Abu Dhar tidak tepat untuk diterapkan pada suasana perang saat itu. Mendengar uraian Bilal, Abu Dhar marah besar. Ia berasa pendapatnya diremehkan. Lalu iapun melontarkan kata-kata yang membikin Bilal sakit hati. “Berani berani kau menyalahkan pedapatku, hai anak orang hitam!” kata Abu Dhar dengan sengit. Bilalpun diam tidak melawannya, lalu bangun dari tempat duduknya dan berkata “Demi Allah aku akan adukan hal ini kepada Rasulallah saw”.

Dengan rasa kesel, berangkatlah Bilal ke rumah Rasulallah saw. Setibanya disana ia mencurahkan isi hatinya kepada beliau. Ia menceritakan apa yang terjadi terhadap dirinya atas penghinaan yang dilontarkan Abu Dhar. Berobahlah wajah Rasulallah mendengar aduan Bilal. Lalu beliau berdiri dan segera pergi menuju ke tempat dimana Abu Dhar berada. Tapi beliau tidak masuk, beliau hanya lewat dan langsung pergi ke masjid.

Melihat Rasulallah saw lewat menjuju masjid, Abu Dhar pun langsung menghampirinya. Ia tahu persis bahwa belaiu marah kepadanya. Setelah Abu Dhar memberi salam, Rasulallah saw berkata kepadanya “Wahai Abu Dhar, kamu telah menghina Bilal dan menghina asal usulnya, ketahuilah wahai Abu Dhar sesungguhnya kamu asal usulnya adalah orang Jahiliyyah sebelum Islam”. Abu Dhar merasa terpukul dan menyesal sekali. Ia menangis di hadapan Rasulallah minta maaf atas kesalahanya. “Wahai Rasulallah, maafkan kesalahanku dan mintalah kepada Allah ampunan atas doaku”, ujarnya. Lalu iapun keluar sambil menagis dan segera menemui Bilal di luar. Ia merangkulnya meminta maaf. Apakah cukup begitu saja Abu Dhar meminta maaf kepada Bilal??? Tidak. Ia lalu menempelkan sebelah pipinya di atas tanah di muka kaki Bilal seraya berkata “Demi Allah Wahai Bilal aku tidak akan angkat pipiku dari atas tanah sehingga kamu injak pipiku yang sebelah lagi dengan kakimu. Demi Allah sesungguhnya kamu orang terhormat dan aku yang terhina”.

Shubahanallah. Shubhanallah. Apakah Bilal rela menginjak pipi temannya Abu Dhar dengan kakinya? Mustahil!!. Mustahil, ia rela menginjaknya. Kalau begitu apa yang dilakukan Bilal pada saat itu? Ia dekatkan mukanya ke pipi Abu Dhar lalu menciumya berkali kali. kemudian diangkatnya dari tanah. Mereka berdua berpelukan dengan penuh kasih sayang dan tangisan

Kisah di atas kita bisa mengambil sebagai bahan renungan bahwa memaafkan itu bukalah perbuatan yang mudah dilakukan. Ketika seseorang telah dihina maka yang tersimpan biasanya perasan dendam dan ingin membalas bahkan bisa sampai kepada permusuhan dan memutuskan hubungan silaturahim. Sifat memaafkan hanya terdapat pada diri orang yang luar biasa seperti yang terdapat pada diri Bilal yang memiliki keluhuran akhlak, ia tidak hanya memaafkan Abu Dhar, melainkan sekaligus membalasnya dengan kebaikan yang tak pernah terpikirkan oleh Abu Dhar.

Sama halnya sifat meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan kepada diri seseorang yang telah dihina bukanlah sifat yang mudah. Meminta maaf memerlukan kesadaran hati dan perasaan berdosa. Apa yang dilakukan Abu Dhar terhadap Bilal justru semakin mempererat hubungan silaturahim dan membuat mereka berdua adalah sahabat yang sangat setia.

“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba permusuhan antaramu dan dia akan berobah menjadi persahabatan yang sangat setia”, Fushsshilat.

Wallahua’lam
Hasan Husen Assagaf

June 9, 2007

Ceramah Maulid Presiden Libia Muammar Khadafi di Nigeria Utara

Filed under: islamic — abdullah alaydrus @ 2:57 am

nyomot dari milis nih :mrgreen:

Keharusan menyampaikan ajaran Islam yang benar dan melawan propaganda barat

Hari ini kita dituduh sebagai teroris ! Sementara kita adalah manusia-manusia yang cinta perdamaian dan keamanan di dunia ini. Kami mencintai nabi-nabi yang lain selain Muhammad, namun mereka orang-orang barat menuduh kami sebagai ahli teroris dan sama sekali tidak mengakui nabi-nabi kami. Bahkan mereka menggambar karikatur yang penuh dengan penghinaan kepada nabi kita Muhammad saw.

Mengapa sebagian kelompok manusia ingin melenyapkan kuburan orang-orang suci

Ada sekelompok orang yang ingin menghancurkan semua peninggalan–peningalan islam .Mereka juga berusaha melenyapkan kuburan Muhammad, kuburan para sahabat, ahli bait, para muhajirin dan anshar, kuburan Fatimah, Aisyah, kuburan Utsman dan Umar dengan alasan untuk memberantas kemusyrikan. Mereka tidak ingin menyisakan atsar-atsar islam sedikitpun dan untuk melenyapkan makam nabi Muhammad mereka membangun majsid yang sangat besar (masjid nabawi). Saya secara pribadi bisa berziarah ke tempat-tempat tersebut tapi tapi saya tidak bisa lagi melihat kuburan (Muhammad) dan bahkan kuburan-kuburan para sahabat yang lain.

Kasus penangkapa tentara Inggris

Ketika tentara iran menangkap tentara inggris. Negara inggris segera melakukan protes dan mengatakan Iran menangkap tentara kami di perairan kami. Iran menjawab : bukankah perairan kalian ada di dekat Inggris sana ? orang-orang inggris menjawab tentara kami ada di wilayah kami. Artinya irak adalah milik inggris demikian juga dengan perairan dan daratannya. Dan kalian orang iran tidak tidak berhak menangkap tentara di wilayah kami.
Seperti yang anda ketahui, apa sebetulnya terjadi di sana. Satu negara arab dikuasai dan dijajah oleh Amerika serikat lalu dimiliki oleh mereka.

Konflik Suni dan Syiah dan keharusan menegakan Dinasti Fatimiyah

Sekarang kami menjadi tercerai berai. Kekuasaan tidak lagi efektif. Para penguasa tidak lagi memikirkan rakyatnya. Islam pun dipecah-pecah menjadi suni dan syiah. Ini adalah bid’ah bahwa bid’ah ini juga diungkapkan oleh gedung putih dan presiden AS. Padahal mereka sama sekali tidak mengerti tentang islam. Tapi mereka melakukan provokasi agar orang-orang iran melawan arab dan orang-orang arab melawan Iran. Syiah melawan suni dan suni melawan syiah. Dan ini jelas tidak menguntungkan kita. Itu menguntungkan yang lain yaitu musuh kita, imperialis dan para penjajah. Kondisi ini juga pernah terjadi di zaman Abasiyah yang kemudian menjadi dinasti Fatimiah, yaitu sebuah kerajaan yang dinisbatkan kepada Fatimah zahra, Al-Azhar adalah berasal dari nama zahra yaitu putri rasul.

Sebagian orang mengatakan bahwa syiah itu ada di iran. Syiah artinya adalah orang-orang persia dan suni adalah orang-orang arab. Ini adalah kebohongan yang jelas karena faktanya tidak demikian. Pemerintahan yang pertama kali berdiri di Afrika utara adalah dinasti Fatimiyah yang berlangsung selama 260 tahun. Karena itulah tradisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat Afrika utara adalah tradisi syiah. Matam, peringatan hari asyura dan dan imam Ali di sana benar-benar hidup ini dan ini bukanlah berlebihan. Semua berasal dari syiah nama-nama mereka juga semuanya syiah.

Adapun mengenai siapakah yang paling patut memegang kekuasaan. Apakah ada orang yang lebih berhak dari ahlulbait? Ahlubait lebih berhak untuk menjadi pemimpin politik dari semua penguasa sekarang yang bukan dari ahlubait. Isyu untuk memecah belah bahwa syiah anti arab dan arab anti Persia adalah diciptakan oleh para penjajah. Syiah bukan hanya milik Iran. Afrika utara adalah syiah.

Kami akan membangun kembali dinasti fatimiyah kedua di Afrika utara. Identias kami adalah identitas fatimah. Semua etnis akan membaur di dalamnya. Semua partai dan aliran harus menyatu di dalamnya. Sehingga akhirnya seluruh konflik,pertikaian kesukuan, sekte, nasionalisme di Afrika utara, Sudan, Mesir dan di padang pasir akan berhenti dengan sendirinya.

Kami semua akan menjadi fatimiyah. Afrika utara, negara-negara Arab adalah syiah. Setiap orang yang mengatakan bahwa syiah adalah orang-orang persia itu adalah kata-kata bohong. Kerajaan Fatimah adalah kerajaan pertama syiah yang terbentuk di Afrika utara, bukan di Iran dan untuk kedua kalinya kami akan membangun kembali dinasti ini. kami akan membangun kembali dinasti fatimah yang lebih maju dan bersatu dengan memanfaatkan semua potensi yang ada di batas-batas wilayah dinasti Fatimah pertama.

Kalau ada orang yang berhak menjadi pemimpin setelah rasul dari kalangan ahlulbait maka Ali lah orangnya. Namun kalau orang yang harus menjadi pemimpin itu adalah orang yang paling tua, paling kaya dan paling berkuasa maka mungkin itu adalah hak Abu Bakar, Ini adalah logika dan ini adalah masalah sejarah. Tapi secara emosional semua kami,orang-orang arab dan semua kaum muslimin semuanya bersama Ali. Artinya semua orang-orang arab adalah syiah kalau arti syiah adalah cinta kepada Ali maka semua orang arab adalah syiah tapi sebagai orang mengatakan tidak. Cobalah lakukan pemungutan suara. Suruhlah kaum muslimin memilih antara ALi dan Muawiyah pasti semua memilih Ali. Cobalah tanya orang-orang islam apakah kalian bersama Fatimah atau bersama yang lain? Atau bersama istri Muawiyah atau istri Yazid, tentu mereka akan memilih bersama Fatimah yatu syiah Ahlu bait, syiah Fatimah dan syiah Ali.

Semua orang-orang arab dan semua kaum muslimin adalah syiah Ali. Kalau yang disebut dengan pengikut ali adalah syiah, maka kami adalah syiah ini adalah sebuah hakikat dan bagian dari tradisi kami.

Dan kalau arti dari suni adalah iman kepada Muhammad maka kami adalah suni dan jadi semua orang Iran adalah suni apakah orang-orang Iran tidak suka Muhammad? Tentu tidak mereka sangat mencintai Muhamad mereka mengatakan muhammad adalah nabi kami dan mereka adalah pengikut sunnah muhamad jadi mereka adalah orang-orang suni.

Sebagian orang bertanya kepada kami apakah kalian mencintai Ali ? YA, kami mencintai Ali kemudian orang itu berkata jadi kalian adalah syiah! Ya masyrakat Afrika utara adalah syiah.

Tapi kita juga harus menghentikan semua perdebatan teologis dan kita harus menutup pintu para provokator barat dan juga dan kita harus menghentikan para penguasa arab yang ingin memusuhi Iran demi menyenangkan orang-orang AS. Elit-elit arab demi menyenagnkan barat, mereka memusuhi Iran dan mengatakan Iran sedang membuat bom atom. Iran demikian, dan demikian, orang-orang persia sedang berbuat demikian kalau kita tanyakan mengapa kalian membenci Iran? Karena mereka adalah masyarakat syiah! Padahal tidak demikian kami yang ada di Afrika utara adalah negara Fatimah baru dan syiah kami adalah syiah. Syiah sekarang dari Iran pindah ke Afrika utara dan demikian akan berdirilah dinasti Fatimah era kedua.

Kami di Afrika utara adalah syiah tapi kalau kita ditanya tentang sunah nabi maka kami akan menyambut dengan jiwa dan raga kami. Kami sangat terikat dengan sunah nabi. Kami adalah para pengikut sunah nabi, Kami tidak memandang wilayah dan negara. Perbatasan tidaklah penting bagi kami. Setiap orang memang berada di tempatnya tapi identitas kami adalah Fatimah dan tidak ada lagi yang lebih berhak menduduki posisi kekuasan selain yang memiliki nasab kepada Fatimah.

Kalaupun kami adalah para pendukung demokrasi maka kami harus menyerahkan kedaulatan kepada rakyat dan kami juga patuh kepara musyawarah. Tapi kalau kalian ingin menyalah gunakan islam ketahuilah bahwa ahlubait lebih berhak memegang pemerintahan ini dari kalian.

Kami tidak ingin berdebat dalam masalah-masalah furu dan ikhtilaf fikih. Masing-masing memiliki fikih-fikih sendiri. Rukun dan furu agama memang sudah demikian dan setiap orang memiliki suku dan bangsa sendiri-sendiri. Dan ini tidak lah penting. Yang penting adalah identitas kami fatimiyah tapi musuh-musuh islam ingin menghacurkan islam karena itu mereka menciptakan suni dan syiah.

Kami mengucapkan terimakasih kepada saudara-saudara kami rakyat Iran ,masyarat syiah pencinta ahlubait dan syiah Ali. Kita berhutang budi kepada mereka. Rakyat Iran yang telah bergabung dengan ahlul bait. Ini adalah sesuatu yang besar. Dan saya juga merasa heran mengapa warga Yordania yang ahlubait tapi bisa membenci syiah? Apakah kalian tidak tahu apa arti syiah? Syiah adalah para pengikut ahli bait karena itu mana mungkin kalian masyarakat Yordania menjadi tidak suka dengan syiah?

Ini ajakan untuk menegakan pemerintah Fatimah yang baru dan didukung oleh ismailiyah, zaidiyah, Alawi dan semua orang-orang yang ada dalam wilayah Fatimah. Ini sangat penting bagi kami karena semua akan menyatu.

Wassalam

Newer Posts »

Powered by WordPress