abdullah.alaydrus

July 20, 2007

Korea Selatan dan Gamawan Fauzi

Filed under: idea — abdullah alaydrus @ 7:02 am

“Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun, kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari, kamu harus terbang.”

Tadi malam, atau mungkin hari ini, Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, sedang memenuhi janjinya. Mentraktir seorang tamu, pengusaha kertas dari Korea Selatan. Gamawan kalah bertaruh atas pertandingan sepak bola, antara Indonesia versus Korea Selatan yang berakhir 1 - 0, untuk kemenangan Korea Selatan. Rabu kemarin.

“Kalau Indonesia menang, Anda traktir saya. Kalau Korea yang menang, Anda yang saya traktir”, tantang Gamawan. Hasilnya, sebagaimana ungkapan mantan Bupati Solok itu, bangsa kita harus banyak belajar pada Korea Selatan.

Gamawa Fauzi, sedang terkagum-kagum dengan Korea Selatan. Kunjungannya ke negeri gingseng beberapa waktu lalu, telah membuka cakrawala bagaimana kemajuan sebuah bangsa bisa dicapai dengan cepat. Ia mengaku, sedang mengorek banyak resep, dari pengusaha Pabrik Morin Paper Korea Selatan itu.

Pabrik Morin Paper, mewakili Korea Selatan menunjuk Sumatera Barat sebagai pilot project Hutan Tanaman Industri. Luas lahan yang disediakan 70 ribu hektar. Meliputi daerah luar kawasan hutan taman nasional Siberut dan arah selatan Kepulauan Mentawai. Investasi yang direncanakan bisa mencapai Rp 300 triliun.

“Saya akan belajar lagi pada dia. Di mana kunci kejayaan Korea dicapai. Saya akan menerapkan untuk masyarakat Minang ini”, tandasnya. Tersirat kekaguman dari wajah lelaki berkumis tebal itu.

Korea Selatan, menurut Gamawan, melalui kondisi sulit dengan perjuangan hebat. Penjajahan 35 tahun oleh bangsa Jepang, membuat lingkungan hidup rusak berat. Kayu-kayu hutan ditebang habis oleh Jepang. Pada 1960, pendapatan perkapita Indonesia sama dengan Korea. Kini, pendapatan bangsa itu melompat amat jauh dari Indonesia.

Sebelum perang dunia kedua, Korea tak dikenal dalam pentas dunia. Korea hanya sebuah negara pertanian yang miskin. Perang saudara juga telah meremukkan semua sendi kehidupan warga Korea. Sampai terbelah menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Miskin dan sengsara hingga titik nadir.

Tetapi, bangsa Korea Selatan bukan negara yang dihuni masyarakat yang selalu maingke-ingke. Istilah Minang, dalam bahasa Gamawan yang berarti gemar merecoki terus menerus, atau banyak bertingkah. Mereka bangsa yang padu, dalam memompa tekad dan semangat untuk bangkit berjaya. Tidak sekadar slogan, tetapi diterapkan dalam nafas kehidupan sehari-hari.

“Pada umumnya, mereka setiap hari bekerja selama 16 jam. Mereka malu pulang terlalu cepat, karena tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak berguna”, terang Gamawan.

Buah dari kegigihan ini, ditandai dengan kebangkitan pendidikan Korea Selatan yang dipuji sebagai salah satu negara yang angka melek hurufnya tertinggi di dunia. Ini menjadi fakta, bahwa orang Korea Selatan yang berpendidikan, menjadi modal utama percepatan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai negara itu, selama tiga dekade silam. “Dan itu, tanpa demokrasi”, sentil Gamawan sembari mesem kecut.

Sejak didirikannya Republik Korea tahun 1948, pemerintah mulai menyusun sistem pendidikan modern. Lima tahun kemudian, 1953, pemerintah mewajibkan menyelesaikan sekolah dasar selama enam tahun pada usia antara 6 dan 11 tahun. Jumlah anak yang terdaftar pada tingkat dasar ini mencapai 99,8 persen, dan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah. Tahun 2001 mulai diterapkan pendidikan wajib pada jenjang sekolah menengah.

Belajar dari Korea Selatan, Gamawan menemukan kunci atas keberhasilan ini. Yakni, spirit dan nilai-nilai kemandirian. Tetapi, ia dihadapkan pada kenyataan yang cukup menyesakkan. Dalam survey yang dilakukan Pemda Sumatera barat 2006, warga Sumbar 74 persen berkeinginan jadi pegawai negeri sipil. Ini, sebuah indikasi yang menurut Gamawan sebagai turunnya nilai-nilai kemandirian dan spirit.

Pegawai negeri, bagi Gamawan bukan pekerjaan yang penuh tantangan. Terutama bagi masyarakat Minang yang punya akar budaya sebagai entrepreneur  sejati. Jika pola pikir pekerja malas ini yang dipakai, maka mimpi menjadi mirip Korea Selatan, hanya angan-angan di ruang kosong.

Pentingnya Spirit
Orang Indonesia pandai berdalih. Sindir Gamawan. Mengapa Singapura maju? karena negaranya secuil. Mengapa Korea Selatan hebat? karena wilayahnya kecil. Mengapa Cina jadi raksasa, karena wilayahnya besar. Indonesia? Sulit menjadi bangsa setengah-setengah. Selalu saja dalih itu cerdas untuk berkelit.

Perilaku berdalih dan berkelit itu, yang tidak akan mampu menghapus kemiskinan dan kebodohan. Gamawan benar, dalih wilayah yang juga bermakna modal, kerap dijadikan biang keladi. Padahal, modal yang dimiliki bangsa ini dengan kekayaan alam dan kepulauannya yang luas sudah lebih dari cukup. Tak beralasan, dalih yang lebih cocok disebut sebagai kemalasan itu.

Jika diselami, sesuatu yang telah lama hilang dari bangsa ini sejatinya kepercayaan diri, semangat, dan kebanggaan pada bangsa sendiri. Melihat animo hebat dari pecinta kesebelasan Indonesia, di pentas Piala Asia, tidak bisa dipungkiri banyak orang hatinya bergetar. Tiba-tiba, kita seakan menemukan pemicu sebuah kebangkitan. Hingga, Presiden SBY pun merasa perlu untuk larut dalam nafas heroik di Gelora Bung Karno itu. Sayang, Korea Selatan menghentikan momen penting ini.

Korea Selatan memang layak menang. Ia punya segalanya. Teknik, strategi, semangat, dan kecintaan pada negaranya. Itu pula yang mampu membungkam gemuruh ribuan suporter di kandang lawan. Ini sebuah pelajaran yang mestinya dipetik bangsa ini. Semua lapisan masyarakat hendaknya berkorban untuk membangun bangsanya. Bukan orang miskin melulu, yang dipaksa sabar narimo, berkorban, dan berjuang. Sementara, pemerintah, wakil rakyat, pengusaha, dan para penikmat bumi Indonesia ini, hidup untuk pribadi dan sanak keluarganya.

Dalam buku Rahasia Bisnis Orang Korea yang ditulis Ann Wan Seng, Orang Korea adalah bangsa yang gigih, tahan serangan, tidak takut diuji dan berani mengambil risiko. Orang Korea percaya tiada jalan yang singkat untuk berjaya. Mereka perlu mengawali dari bawah.

Prinsip ini yang dipegang oleh pengusaha Korea dan menjadi asas kejayaan mereka. Mereka mempunyai cita-cita yang tinggi bukan untuk kepentingan peribadi, tetapi untuk kejayaan bangsa dan martabat negaranya. Kejayaan mereka adalah kejayaan bangsa Korea. Pencapaian mereka adalah pencapaian negaranya.

Bahkan, dalam prinsip orang-orang Korea Selatan yang dipatri sedari kecil, agar selalu berada selangkah di depan. “Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun, kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari, kamu harus terbang.”

Gamawan terpikat karenanya. Maka, dalam pengantar usai penandatanganan launching Dompet Dhuafa Singgalang (DDS), di Rattan Room Harian singgalang, Rabu (18/7), ia berwasiat bahwa yang terpenting untuk membantu penderitaan dan kemiskinan adalah spirit, layaknya yang dimiliki bangsa Korea Selatan.

“Saya terkesan dengan Dompet Dhuafa Republika, yang membangun lembaga dan menjalankan programnya dengan landasan nilai-nilai, semangat, dan kemandirian. Bukan modal yang jadi masalah di negeri ini, tetapi spirit itulah yang utama”.

(sunaryo adhiatmoko)

http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=300752&kat_id=482

July 16, 2007

KALIMAT TAUHID

Filed under: idea, islamic — abdullah alaydrus @ 6:05 am

ABU DHAR ra, sahabat Nabi saw, pernah sebelum masuk Islam, pergi ke tempat yang biasanya ia menyembah berhala setiap hari untuk meminta kepadanya rizki. Tiba-tiba ia melihat kepala patungnya basah seperti ada orang yang sengaja menyiraminya dengan air. Abu Dhar marah besar dan bertanya kepada dirinya: “siapa gerangan yang berani berani menyirami air di atas kepala Tuhanku”. Ia menengok ke kiri ke kanan tapi tidak mendapatkan tanda-tanda ada seseorang berada di sekitar tempat itu, hanya saja ia melihat ada seekor serigala sedang asyik tidur di tempat yang tak berjahuan dengan patungnya. Dari situ, ia mengetahui bahwa serigala itulah yang telah mengencingi kepala Tuhannya. Maka turunlah kepada Abu Dhar hidayat dari Allah. Lalu ia melontarkan beberapa bait syair kepada patungnya:Tuhan dikencingi serigala di atas kepalanya
Sungguh hina bagi Tuhan yang telah dikecingi
Jika kamu itu Tuhan pasti kamu bisa mencegahnya
Maka sialan bagimu karena tidak bisa melindungi.
Aku beriman kepada Allah, tak ada yang mengalahi Nya.
Dan bersuci dari segala bentuk patung di muka bumi

Setelah itu Abu Dhar datang kepada Rasulallah untuk mengikrarkan keislamannya. Mulai saat itu ia menjadi seorang muslim yang patuh dan teguh dalam membela kalimat tauhid.

Konon dari kecintaannya beliau terhadap kalimat tauhid, sehingga bacaan ayat suci al Quran yang paling banyak dibaca ialah surat al-Ikhlas (Qul Huallahu Ahad). Karena di dalam surat itu terkandung ayat-ayat yang memurnikan keesaan Allah dan menolak segala macam kekufuran.

Suatu ketika Rasulallah saw berkata kepada Abu Dhar: “Wahai Abu Dhar sesungguhnya Jibril telah memberi salam kepadamu“. Abu Dhar pun bertanya kepada Beliau “Bagaimana Jibril bisa mengenalku, ya Rasulallah?“. Rasulallah saw menjawab: “Pertanyaanmu itu telah ku tanya kepada Jibril, dan iapun menjawab: “Bagaimana aku tidak mengenal Abu Dhar, sedangkan semua malaikatdi langit telah mengenalnya“. Aku lalu bertanya lagi kepada Jibril: “Bagimana mereka mengenal Abu Dhar wahai Jibril“. Jibril pun menjawab: “karena ia banyak sekali membaca surat al-Ikhlas“.

Dari kisah di atas, kita bisa mengambil satu pelajaran penting sekali bahwa Islam mengajarkan umatnya, sebelum segala sesuatu, agar memperteguh akidahnya dan memperkuat keyakinanya dengan kalimat tauhid “La Ilaha Ilallah“. Jika akidah dan keyakinan kepada Allah kuat, niscaya akhlak pun akan baik dan benar. Karena untuk merobah akhlak menjadi baik dan benar tanpa memperkuat akidah dan tauhid ibarat usaha menyuburkan daun dan ranting sebuah pohon tanpa mempedulikan kondisi akarnya. Hanya pohon yang memiliki akar kuat akan memiliki batang, ranting, dan dedaunan yang kokoh pula.

Sungguh besar derajat kalimat tauhid di sisi Allah. Sungguh agung kedudukannya di hadapan Pencita langit, bumi dan se isi-isinya. Bahkan kalimat itu bagi Nya sangat teguh, bagaikan pohon yang teguh, kokoh, dan berdiri tegap yang tidak bisa disambar petir atau halilintar. Demi Allah seandainya langit, bumi dan se isi-isinya diletakan di neraca timbangan dan kalimat “La Ilaha Ilallah” diletakan di neraca timbangan yang lain, maka kalimat “La Ilaha Ilallah” akan lebih berat dari langit, bumi dan seisi-isinya.

La Ilaha Ilallah“. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah, tiada agama selain agama Allah, tiada syari’at selain syari’at Allah, dan tiada aturan di dunia yang indah dan sempurna selain aturan Allah. Maka kalau ada yang bertanya apa intisari agama yang diturukan para Nabi, dari mulai nabi Adam as sampai nabi kita Muhammad saw? Jawaban yang tepat adalah tegakkan kalimat tauhid “La Illaha Illallah“.

Makanya, Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi selalu menutup majlisnya setiap minggu dengan kalimat tauhid “La Ilaha Ilallah“. Setelah kalimat itu dibacakan, terasa benar ada sentuhan dan getaran Ilahi yang masuk ke hati sanubari pendengarnya. Karena kalimat baik yang keluar dari hati yang baik dan bersih, tak mungkin ada dinding yang bisa menghalanginya dan pasti akan menembus ke hati pula. Kalimat “La Ilaha Illallah” yang menyentuh qalbu mu’min ini cukup dijadikan sebagai ta’lim atau pelajaran yang tak terlupakan sepanjang hayat dikandung badan.

Sampai sekarang ini, suara Habib Ali masih teringat. Setiap ingat, jiwa kita tergetar oleh pesona kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesalehannya yang sukar dibayangkan masyarakat kota sekarang ini, yang cenderung angkuh, sombong, serba duniawi, seolah-olah semua isi dunia hendak mereka kuasai. Padahal, setelah dikuasai, yang mereka dapatkan cuma penyakit demi penyakit yang hampir tak ada obatnya. Karena penyakit mereka bukan terletak di dalam tubuh, melainkan dalam jiwa yang kotor, hati yang mesum dan gersang, yang tidak bisa diobati kecuali dengan siraman rohani dan kalimat tauhid “La Ilaha Illallah” yang selalu dibawakan Habib Ali setiap minggu.

Pernah Rasulallah saw sedang duduk bersama para sahabatnya. Beliau bertanya kepada mereka pertanyaaan yang tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. “Ada sebuah pohon yang daunya tidak pernah jatuh ke tanah, pohon itu ibarat seorang mukmin yang banyak manfaatnya. Apa gerangan nama pohon itu?“. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang bisa menjawab pertanyaannya. Nabi pun menjelaskan: “itulah pohon korma“.

Itulah perumpamaan kalimat tauhid yang dimaksud Rasulallah saw, ibarat pohon korma yang banyak bermanfaat bagi manusia, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelagit. Pohon itu tumbuh subur, tegak dan kokoh di setiap musim, baik di musim kemarau atau dimusim dingin, di terik matahari yang membakar yang suhunya bisa mencapai diatas 50 derajat C atau di saat datangnya musim dingin yang suhu bisa mencapai di bawah 0 derajat.

Pohon korma yang teguh dan kokoh itu diibaratkan seperti ucapan yang teguh yang tidak hanya bermangfaat bagi kehidupan manusia didunia, akan tetapi berlanjut kemangfaatanya sampai ke akhirat. Allah telah meneguhkan iman seorang mukmin dengan ucapan yang teguh (kalimat tauhid) dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat.

Laa Ilaha Ilallah“, tiada Tuhan selain Allah. inilah kalimat yang selalu dibawakan Habib Ali Alhabsyi sampai akhir hayatnya. Sebelum wafat beliaupun sempat mendoakan umat Islam agar dengan kalimat itulah mereka dihidupkan, dengan kalimat itulah mereka dimatikan dan dengan kalimat itu pula insyaAllah mereka akan dibangkitkan bersama-sama pemimpin tauhid, Rasulallah saw, di hari kebangkitan

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

Sudahkah kita ber-La ilaha illa llah?

Filed under: idea, islamic — abdullah alaydrus @ 3:52 am

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik ketika memasuki Ka’bah pada saat melaksanakan ibadah haji bertemu dengan Salim ibn Abdullah ibn Umar ibn Khattab. Lalu ia berkata, “Wahai Salim, mintalah kepadaku kebutuhan-kebutuhanmu”. Salim (cucu Umar r.a.) menjawab, “Saya malu di rumah Allah memohon kepada selain Allah.” Ketika Salim keluar dari Ka’bah (Masjid al Haram), ia diikuti oleh Khalifah Hisyam seraya berkata, “Sekarang engkau sudah keluar dari Ka’bah maka mintalah apa saja yang engkau perlukan.” Salim bertanya, “Dari kebutuhan duniawi atau kebutuhan akhirat?” Khalifah Hisyam menjawab, “Dari kebutuhan duniawi.” Salim kemudian berkata kepada Khalifah, “Saya tidak meminta kebutuhan duniawi dari Yang Memiliki Dunia. Bagaimana mungkin saya meminta dari orang yang tidak memiliki dunia?”

La ilaha illa Llah! Apa yang dilakukan oleh Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab, adalah ekspresi totalitas penghambaan kepada Allah dan manifestasi dari La ilaha illa llah. Sesungguhnya, bila kita dalami makna lafadz tahlil tersebut memang membutuhkan konsekwensi yang sangat besar dalam kehidupan kita. La ilaha illa Llah tidak dapat kita batasi pemaknaannya hanya dengan arti ‘tidak ada tuhan selain Allah’ saja. Sullamunnajah memberikan arti La ilaha illah llah bahwa tidak ada yang patut disembah di muka bumi ini, kecuali Allah. La ilaha ila Llah, bahkan juga bermakna; tidak ada yang patut dimintai pertolongan kecuali Allah, tidak ada yang patut menjajah kita kecuali Allah, tidak ada yang patut kita cintai kecuali Allah.

La ilaha ila Llah, menuntut seorang muslim yang mengucapkan lafadz tersebut benar-benar meng-esa-kannya dalam segala bidang. Setiap gerak tubuh, jiwa dan jasad yang membungkusnya, mengejawantahkan makna lafadz tersebut. Ketika hal itu dapat dilakukan, maka tidak saja kesalehan diri dihadapan Allah yang terekspresi, bahkan kesalehan sosial di hadapan mahluk Allah juga nampak dalam diri seseorang.

Apa yang dilakukan Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab, adalah salah satu bentuk ekspresi La ilaha ila Llah yang terbungkus dalam kosa kata yang lain. Artinya ketika kita menampakkan rasa butuh kita di hadapan selain Allah maka secara tidak langsung kita mengingkari makna La ilaha ila Llah itu sendiri. Karena La ilaha ila Llah juga bermakna tidak ada yang boleh mengetahui kebutuhan kita kecuali Allah. Salim menghawatirkan ada yang mengetahui kebutuhannya selain Allah. Ada yang mencukupinya selain Allah, dan kemudian dia menghambakan diri kepada selain Allah.

Seorang teman bercerita tentang budaya orang Betawi. Orang Betawi biasanya mengukur apa yang harus dikerjakan setiap harinya sesuai dengan kebutuhannya. Katakanlah seseorang membutuhkan Rp. 10.000.00 perhari, maka ketika uang sejumlah itu didapatkan, orang itu menghentikan pekerjaannya meski hari masih pagi. Bahkan ketika suatu hari seorang betawi mendapat peruntungan Rp. 50.000.00 dalam sehari yang menurut kalkulasi dia dapat menghidupi diri selama lima hari, maka dia tidak bekerja untuk lima hari ke depan. Perilaku seperti ini sebenarnya merupakan ajaran sufiyah, ajaran ulama-ulama kita terdahulu. Diharapkan seorang muslim yang menjalankan perilaku ini menjadi bagian dari orang yang dicirikan dalam al Quran

Rijaalun laa tulhiihim tijaratun wa la bai’un ila dzikrillah

Seseorang yang aktivitas perekonomiannya tidak membuat terlupa pada dzikrullah. Secara tidak langsung praktek kehidupan masyarakat Betawi itu adalah praktek ber-La ilaha ila Llah.

Di sisi lain, kita juga menemui orang-orang yang begitu memperhatikan status sosial, ketika seseorang diangkat dalam posisi seorang pejabat, meski dalam strata yang terendah, katakanlah eselon VI. Dia disibukkan dengan mengumpulkan harta untuk mengejar kepantasan bagi seorang pejabat. Harus bermobil meski jelek. Harus ini dan itu, hingga menghalalkan segala cara untuk memenuhinya. Orang-orang yang seperti ini tidaklah sulit dicari di sekitar kita. Penghambaan pada materi seperti ini, bila kita runut kembali merupakan bagian bagi pengingkaran diri terhadap La ilaha ila Llah, meski orang tersebut di sisi lain rajin ke masjid atau bertahlil. La ilaha ila Llah hanya menjadi lipstik pemanis bibir saja.

KH. Mustofa Bisri dalam ceramahnya di PP. Nurul Huda Mergosono beberapa waktu yang lalu bahkan menyatakan perilaku kita sehari-hari yang kadang ketika ingin membeli sesuatu memilih-pilih uang yang paling kusut untuk diberikan penjual, adalah bagian dari pengingkaran pada La ilaha ila Llah. Meski hal itu merupakan sesuatu yang remeh, tetapi secara tidak langsung perilaku tersebut menunjukkan kerdilnya hati kita yang tidak mampu melihat, meraba dan menerawang bukan pada palsu atau tidaknya uang tetapi mana Allah dan mana mahluk Allah. Kita dijajah oleh uang. Kita mengeluarkan sesuatu yang paling buruk bentuknya dari dompet kita karena dijajah oleh sesuatu yang masih bagus dan pantas menghuni dompet. Meski nilainya sama! Uang seribu kusut dan robek di sana sini dan uang seribu terbaru keluaran bank, apa bedanya? Sekali lagi nilainya sama! Perbedaan jasad mahluk Allah yang bernilai sama membuat jiwa kita tidak mampu menyatakan dalam tindakan kita La ilaha ila Llah, tidak ada yang boleh menjajah pikiran saya kecuali Allah.

Suatu hari seorang santri meminta izin untuk mengikuti tur perpisahan sekolahannya. Ketika ditanya bisakah dia tidak melakukan kemaksiatan sekecil apapun dalam tur itu? Dia menjawab, “Tidak!” Ketika kyai melarang, santri ini ngotot meminta izin dengan alasan sekali dalam seumur hidup, dan tidak enak dengan teman-temannya, karena sudah menyatakan ikut. Argumen santri ini, sebenarnya kalau kita jujur juga sering kita lakukan, datang kondangan karena tidak enak dengan yang mengundang. Padahal di majelis itu ada percampuran antara lawan jenis dan wanita-wanita yang membuka aurat dan lain sebagainya. Alasan tidak enak pada teman itu, adalah alasan yang sangat manusiawi. Sepertinya kita begitu perhatian dengan toleransi dalam bermasyarakat, kita adalah orang yang beradab karena menjaga perasaan orang. Tetapi bukankah itu termasuk mudahanah? Mengedepankan tidak enak dengan manusia dibanding tidak enak dengan Allah kalau menjalankan maksiat. Laa ilaha ila Llah, tidak ada yang patut disungkani kecuali Allah.

Di jalan-jalan kita sering melihat orang bershalawat atau membaca al Quran sambil menghentak-hentakkan keranjang, berkaos panitia pembangunan masjid atau mushalla. Betapa ikhlasnya mereka mengorbankan harga dirinya meminta-minta untuk membangun bait Allah. Tetapi kenapa masjid yang begitu indah dibangun dengan dana yang diperoleh dari jalanan seperti itu, kosong miskin jemaah? Jangan-jangan hal ini disebabkan cara pengumpulan dana yang seperti itu merupakan bagian dari pengingkaran pada Laa ilaha ila Llah, tidak ada yang bisa diminta-minta kecuali Allah. Al Quran menyatakan la masjidun ussisa ala at taqwa. Masjid dibangun berlandaskan ketaqwaan. Bagaimana kita mampu melandasi pembangunan masjid dengan ketaqwaan, bila cara pengumpulan dananya tidak ber-La ilaha ila Llah? Menampakkan kefakiran di hadapan mahluk yang tidak memiliki kemampuan apapun tanpa campur tangan Allah.

Penulis menduga, banyak kyai yang begitu tidak menyukai santri-santrinya menjadi pegawai negeri, meski kemudian menyerahkan solusinya pada masing-masing pribadi, adalah dalam rangka mengarahkan santrinya untuk ber-La ilaha ila Llah. Seorang pegawai diatur secara ketat kehidupannya oleh undang-undang negara, dengan demikian secara tidak langsung ada penghambaan dan penjajahan pada diri seorang pegawai negeri oleh selain Allah. Padahal kesaksian Laa ilaha ila Llah yang disampaikan seorang muslim menuntut dia untuk tidak mau dijajah oleh siapapun kecuali Allah.

Bila kita mengupas semua bagian kehidupan kita, rasanya banyak sekali poin La ilaha ila Llah yang kita tinggalkan atau sengaja kita abaikan.

Semoga saja dawuh Rasulullah,

Man qaala La ilaha ila Llah, dakhala al jannah
Barang siapa yang mampu mengucap La ilaha ila Llah maka dia masuk surga

Cukup dalam ucapan lisan saja sehingga kita masih bisa berharap surga Nya. Tetapi bila yang dikehendaki Rasulullah tidak sekedar berucap bibir, tapi juga ucap fikir, ucap tubuh, ucap tiap gerak langkah hidup kita, masih pantaskan kita berharap surgaNya? Sudahkah kita ber-Laa ilaha ila Llah?

Penulis:
Abu Najih Ukassyah

Penulis adalah santri tamatan akhir 1996 sekarang menjadi pelayan komunitas Shalawat Padang Ati Jl. Danau Kerinci 6 E1A5 Malang, masih nyantri di Majlis Ta’lim Al Habib Muhammad Ibn Idrus Al Haddad Malang.


sumber: http://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/

April 28, 2007

hotspot di Bogor Trade Mall

Filed under: idea, me — abdullah alaydrus @ 10:59 am

lagi ngetes hotspot d BTM (food court).

untuk akses internetnya sih lumayan stabil dan cepat juga (padahal pake speedy).

koneksinya 10kbps waktu gw download netstumbler :razz: :razz: :razz:

bagaimanakah bermain-main dengan wireless :idea: :roll:

akhirnya diusir juga ama satpam.

March 30, 2007

Bapak Mi Instan Dunia

Filed under: idea — abdullah alaydrus @ 1:57 am

Momofuku Ando (1910–2007)
Bapak Mi Instan Dunia

MI instan telah menjadi salah satu makanan favorit warga dunia,
termasuk Indonesia. Karena rasanya yang lezat, praktis,
mengenyangkan, dan tentunya murah, mi instan sangat dikenal oleh
semua kalangan, terlebih mahasiswa. Namun, tahukah Anda siapa di
balik semua kelezatan untaian mi ini? Meskipun sejarah mencatat bahwa
mi pertama kali berasal dari Cina, ternyata penemuan mi instan ini
justru terjadi di Jepang, 49 tahun yang lalu oleh seorang imigran
dari Taipei bernama Momofuku Ando.

Pebisnis ulet

Momofuku Ando lahir dengan nama asli G?h-hok pada tanggal 5 Maret
1910, di Chiayi, Taiwan, yang ketika itu masih menjadi bagian dari
Kerajaan Jepang. Ia dibesarkan sebagai seorang anak yatim piatu di
Kota Tainan. Orang tuanya meninggal ketika ia masih bayi. Ando kecil
diurus oleh kakeknya yang memiliki toko kain. Pada tahun 1933 atau
tepatnya dalam usia 23 tahun Ando hijrah ke Jepang untuk belajar ilmu
ekonomi di Ritsumeiken University, sebuah universitas di Kyoto,
sambil meneruskan bisnis pakaiannya di daerah dekat Osaka. Dengan
alasan etnis Cina, Ando tidak mendapatkan kewarganegaraan Jepang
hingga berakhirnya Perang Dunia II. Bahkan, ia sempat mendekam dalam
tahanan karena menolak wajib militer.

Pada tahun 1948 ia mulai membuat perusahaan keluarga yang memproduksi
garam dan perdagangan makanan yang diberi nama Chutososha di Ikieda,
Osaka Jepang. Tidak lama kemudian, nama tersebut diganti dengan
Sanshi Industry. Pada saat menjalankan nakhoda perusahaan, ia juga
menekuni penelitian impiannya. Baru pada tahun 1958, impiannya
terwujud.

Ando mengakui bahwa ide aslinya sangat sederhana. Berawal ketika
Jepang masih porak-poranda akibat Perang Dunia II. Dalam autobiografi
berjudul “The Story of the Invention of Instant Ramen” yang
diterbitkan pada tahun 2002, ketika Ando sedang berjalan di puing-
puing jalan di Osaka ia melewati suatu tempat dan melihat antrean
yang panjangnya 20 - 30 meter di depan sebuah kedai di belakang
stasiun kereta api Osaka yang suram karena tertutup oleh asap kereta.
Orang-orang dengan pakaian yang lusuh dan menggigil karena kedinginan
menunggu giliran untuk mendapatkan semangkuk “suba”, suatu jenis mi
Jepang yang terbuat dari tepung buckle wheat. Pengalaman tersebut
meyakinkannya bahwa “kedamaian akan datang di dunia ini ketika orang-
orang mempunyai makanan yang cukup”.

Kemudian Ando berpikir bagaimana caranya mengatasi kekurangan pangan
yang dihadapi Jepang setelah berakhirnya PD II. Betapa senangnya bila
ada makanan yang praktis, mengenyangkan, dan dapat memiliki daya
simpan yang lama. Rakyat Jepang yang kelaparan dapat memperoleh
pangan secara mudah dan cepat. Jenis makanan tersebut mudah dibawa
dan didistribusikan ke daerah sebagai pangan darurat.

Rasa ayam

Namun, menurut Ando, mi yang rasanya tawar bukanlah solusi. Ando
menghendaki mi yang dibuatnya harus memiliki rasa, murah, dan mudah
disajikan. Masalahnya adalah bagaimana memberikan rasa tanpa
membuatnya menjadi seperti bubur. Dengan bantuan alat pembuat mi,
Ando menyiramkan sup pada kaleng yang berisi mi dan air, kemudian
diaduk dengan tangan dan membiarkannya menjadi kering sebagian. Hal
ini dapat memberikan kesempatan mi untuk menyerap sup pada permukaan
luarnya. Mi tersebut selanjutnya dikeringkan. Di samping untuk
memperpanjang umur simpan, mi yang sudah kering mudah disajikan.
Hanya dengan menuangkan air mendidih, kita sudah dapat menikmati
kelezatan mi instan.

Setelah berbulan-bulan melakukan percobaan trial and error, pada
tanggal 25 Agustus 1958 Ando mengumumkan bahwa ia berhasil
menyempurnakan metode penggorengan kilatnya sekaligus menandai
terciptanya mi instan. Selanjutnya, Ando memberi nama produk tersebut
sebagai Chikin Ramen, yang berarti mi rasa ayam. Ayam dalam bahasa
Jepang adalah chickin, sedangkan ramen merupakan salah satu mi khas
Jepang. Mulanya mi ini dianggap sebagai makanan mewah. Harganya dapat
mencapai enam kali harga mi tradisional.

Ide tersebut ternyata tidak disangka telah melahirkan industri
raksasa yang kini dikenal dengan nama Nissin Food Product. Nama
Nissin sendiri baru dipublikasikan saat peluncuran produk Chickin
Ramen yang dijual dalam kemasan cellophane.

Ayam merupakan bahan utama dari kesuksesan Nissin yang mendunia.
Menurut Ando, dengan menggunakan sup ayam, mi instan dapat diterima
oleh masyarakat luas. Orang Hindu tidak diperkenankan mengonsumsi
sapi, sedangkan orang Muslim tidak diperbolehkan mengonsumsi babi,
tetapi tidak ada satu agama dan negara pun yang melarang penggunaan
ayam sebagai salah satu komponennya.

Tetap ulet di usia senja

Pada tahun 1964, Ando mendirikan Perhimpunan Industri Makanan Siap
Saji dan memperkenalkan sejumlah standar industri seperti misalnya
pencantuman tanggal produksi dalam bungkus. Sejak 18 September 1971
Ando mulai menjual mi gelas, mi instan dalam wadah styrofoam yang
tahan air dan dapat langsung digunakan untuk memasak mi.

Untuk meningkatkan kualitas mi, didirikanlah Asosiasi Pabrik Ramen
Internasional (International Ramen Manufacturers’ Association) pada
tahun 1997 di mana Ando didaulat sebagai ketuanya. Sementara itu,
untuk mengenang sejarah mi instan dan jasa-jasa Ando sebagai
penemunya, didirikan Museum Ramen Instan Momofuku Ando pada bulan
November 1999 di dekat Ikeda, Jepang.

Pada Juli 2005, Nissin memperkenalkan mi instan yang dikemas vakum
yang didesain khusus untuk astronaut Jepang, Soichi Noguchi, untuk
disantap selama mengembara di ruang angkasa bersama pesawat Discovery
milik Amerika Serikat. Ando berkata, “Saya sangat senang, saya telah
mewujudkan mimpi saya bahwa mi buatan saya dapat berada di angkasa.”

Ando tetap aktif hingga menjelang akhir hayatnya. Ia sempat
memberikan pidato tahun baru pada karyawan Nissin dan makan siang
dengan Chicken Ramen Cup Noodle bersama para eksekutif perusahaannya.
Pada musim gugur terakhirnya, ia menghabiskan waktu dengan bermain
golf dan memakan ramen setiap hari hingga akhir hayatnya.

Ando meninggal dunia pada Jumat 5 Januari 2007 di sebuah rumah sakit
di Ikeda, Osaka, Jepang, pada usia 96 tahun karena gagal jantung,
kurang 59 hari menjelang ulang tahunnya yang ke-97 pada tanggal 5
Maret 2007. Ando meninggalkan seorang istri, dua orang anak lelaki
dan seorang anak perempuan.

Sepeninggalnya, Ando dan penemuannya diberi penghargaan “The Order of
the Rising Sun” dan “Most Important Invention of the 20th Century”
oleh masyarakat Jepang. Majalah Time memilihnya sebagai “Person of
the Century”. Selain itu, komik web “Piled Higher and Deeper”
dipasang untuk menghormatinya. Walaupun mungkin namanya tak semasyhur
James Watt atau pun Albert Einstein, namun penemuannya akan selalu
dicari dan dikonsumsi sepanjang masa.***

Dadan Rohdiana dan Arista Budiman, Dosen dan Alumni Jurusan Teknologi
Pangan Universitas Pasundan.

Powered by WordPress