abdullah.alaydrus

March 30, 2007

Bapak Mi Instan Dunia

Filed under: idea — abdullah alaydrus @ 1:57 am

Momofuku Ando (1910–2007)
Bapak Mi Instan Dunia

MI instan telah menjadi salah satu makanan favorit warga dunia,
termasuk Indonesia. Karena rasanya yang lezat, praktis,
mengenyangkan, dan tentunya murah, mi instan sangat dikenal oleh
semua kalangan, terlebih mahasiswa. Namun, tahukah Anda siapa di
balik semua kelezatan untaian mi ini? Meskipun sejarah mencatat bahwa
mi pertama kali berasal dari Cina, ternyata penemuan mi instan ini
justru terjadi di Jepang, 49 tahun yang lalu oleh seorang imigran
dari Taipei bernama Momofuku Ando.

Pebisnis ulet

Momofuku Ando lahir dengan nama asli G?h-hok pada tanggal 5 Maret
1910, di Chiayi, Taiwan, yang ketika itu masih menjadi bagian dari
Kerajaan Jepang. Ia dibesarkan sebagai seorang anak yatim piatu di
Kota Tainan. Orang tuanya meninggal ketika ia masih bayi. Ando kecil
diurus oleh kakeknya yang memiliki toko kain. Pada tahun 1933 atau
tepatnya dalam usia 23 tahun Ando hijrah ke Jepang untuk belajar ilmu
ekonomi di Ritsumeiken University, sebuah universitas di Kyoto,
sambil meneruskan bisnis pakaiannya di daerah dekat Osaka. Dengan
alasan etnis Cina, Ando tidak mendapatkan kewarganegaraan Jepang
hingga berakhirnya Perang Dunia II. Bahkan, ia sempat mendekam dalam
tahanan karena menolak wajib militer.

Pada tahun 1948 ia mulai membuat perusahaan keluarga yang memproduksi
garam dan perdagangan makanan yang diberi nama Chutososha di Ikieda,
Osaka Jepang. Tidak lama kemudian, nama tersebut diganti dengan
Sanshi Industry. Pada saat menjalankan nakhoda perusahaan, ia juga
menekuni penelitian impiannya. Baru pada tahun 1958, impiannya
terwujud.

Ando mengakui bahwa ide aslinya sangat sederhana. Berawal ketika
Jepang masih porak-poranda akibat Perang Dunia II. Dalam autobiografi
berjudul “The Story of the Invention of Instant Ramen” yang
diterbitkan pada tahun 2002, ketika Ando sedang berjalan di puing-
puing jalan di Osaka ia melewati suatu tempat dan melihat antrean
yang panjangnya 20 - 30 meter di depan sebuah kedai di belakang
stasiun kereta api Osaka yang suram karena tertutup oleh asap kereta.
Orang-orang dengan pakaian yang lusuh dan menggigil karena kedinginan
menunggu giliran untuk mendapatkan semangkuk “suba”, suatu jenis mi
Jepang yang terbuat dari tepung buckle wheat. Pengalaman tersebut
meyakinkannya bahwa “kedamaian akan datang di dunia ini ketika orang-
orang mempunyai makanan yang cukup”.

Kemudian Ando berpikir bagaimana caranya mengatasi kekurangan pangan
yang dihadapi Jepang setelah berakhirnya PD II. Betapa senangnya bila
ada makanan yang praktis, mengenyangkan, dan dapat memiliki daya
simpan yang lama. Rakyat Jepang yang kelaparan dapat memperoleh
pangan secara mudah dan cepat. Jenis makanan tersebut mudah dibawa
dan didistribusikan ke daerah sebagai pangan darurat.

Rasa ayam

Namun, menurut Ando, mi yang rasanya tawar bukanlah solusi. Ando
menghendaki mi yang dibuatnya harus memiliki rasa, murah, dan mudah
disajikan. Masalahnya adalah bagaimana memberikan rasa tanpa
membuatnya menjadi seperti bubur. Dengan bantuan alat pembuat mi,
Ando menyiramkan sup pada kaleng yang berisi mi dan air, kemudian
diaduk dengan tangan dan membiarkannya menjadi kering sebagian. Hal
ini dapat memberikan kesempatan mi untuk menyerap sup pada permukaan
luarnya. Mi tersebut selanjutnya dikeringkan. Di samping untuk
memperpanjang umur simpan, mi yang sudah kering mudah disajikan.
Hanya dengan menuangkan air mendidih, kita sudah dapat menikmati
kelezatan mi instan.

Setelah berbulan-bulan melakukan percobaan trial and error, pada
tanggal 25 Agustus 1958 Ando mengumumkan bahwa ia berhasil
menyempurnakan metode penggorengan kilatnya sekaligus menandai
terciptanya mi instan. Selanjutnya, Ando memberi nama produk tersebut
sebagai Chikin Ramen, yang berarti mi rasa ayam. Ayam dalam bahasa
Jepang adalah chickin, sedangkan ramen merupakan salah satu mi khas
Jepang. Mulanya mi ini dianggap sebagai makanan mewah. Harganya dapat
mencapai enam kali harga mi tradisional.

Ide tersebut ternyata tidak disangka telah melahirkan industri
raksasa yang kini dikenal dengan nama Nissin Food Product. Nama
Nissin sendiri baru dipublikasikan saat peluncuran produk Chickin
Ramen yang dijual dalam kemasan cellophane.

Ayam merupakan bahan utama dari kesuksesan Nissin yang mendunia.
Menurut Ando, dengan menggunakan sup ayam, mi instan dapat diterima
oleh masyarakat luas. Orang Hindu tidak diperkenankan mengonsumsi
sapi, sedangkan orang Muslim tidak diperbolehkan mengonsumsi babi,
tetapi tidak ada satu agama dan negara pun yang melarang penggunaan
ayam sebagai salah satu komponennya.

Tetap ulet di usia senja

Pada tahun 1964, Ando mendirikan Perhimpunan Industri Makanan Siap
Saji dan memperkenalkan sejumlah standar industri seperti misalnya
pencantuman tanggal produksi dalam bungkus. Sejak 18 September 1971
Ando mulai menjual mi gelas, mi instan dalam wadah styrofoam yang
tahan air dan dapat langsung digunakan untuk memasak mi.

Untuk meningkatkan kualitas mi, didirikanlah Asosiasi Pabrik Ramen
Internasional (International Ramen Manufacturers’ Association) pada
tahun 1997 di mana Ando didaulat sebagai ketuanya. Sementara itu,
untuk mengenang sejarah mi instan dan jasa-jasa Ando sebagai
penemunya, didirikan Museum Ramen Instan Momofuku Ando pada bulan
November 1999 di dekat Ikeda, Jepang.

Pada Juli 2005, Nissin memperkenalkan mi instan yang dikemas vakum
yang didesain khusus untuk astronaut Jepang, Soichi Noguchi, untuk
disantap selama mengembara di ruang angkasa bersama pesawat Discovery
milik Amerika Serikat. Ando berkata, “Saya sangat senang, saya telah
mewujudkan mimpi saya bahwa mi buatan saya dapat berada di angkasa.”

Ando tetap aktif hingga menjelang akhir hayatnya. Ia sempat
memberikan pidato tahun baru pada karyawan Nissin dan makan siang
dengan Chicken Ramen Cup Noodle bersama para eksekutif perusahaannya.
Pada musim gugur terakhirnya, ia menghabiskan waktu dengan bermain
golf dan memakan ramen setiap hari hingga akhir hayatnya.

Ando meninggal dunia pada Jumat 5 Januari 2007 di sebuah rumah sakit
di Ikeda, Osaka, Jepang, pada usia 96 tahun karena gagal jantung,
kurang 59 hari menjelang ulang tahunnya yang ke-97 pada tanggal 5
Maret 2007. Ando meninggalkan seorang istri, dua orang anak lelaki
dan seorang anak perempuan.

Sepeninggalnya, Ando dan penemuannya diberi penghargaan “The Order of
the Rising Sun” dan “Most Important Invention of the 20th Century”
oleh masyarakat Jepang. Majalah Time memilihnya sebagai “Person of
the Century”. Selain itu, komik web “Piled Higher and Deeper”
dipasang untuk menghormatinya. Walaupun mungkin namanya tak semasyhur
James Watt atau pun Albert Einstein, namun penemuannya akan selalu
dicari dan dikonsumsi sepanjang masa.***

Dadan Rohdiana dan Arista Budiman, Dosen dan Alumni Jurusan Teknologi
Pangan Universitas Pasundan.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress